Minggu, 10 Oktober 2010

Gerakan Mahasiswa Dalam Pusaran Zaman ( Sebuah Pemetaan di Kampus UGM )

Membincang sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia, kita akan berhadapan dengan cerita panjang di samudra perjuangan bangsa Indonesia. Bermula dari kurang lebih satu abad yang lalu dengan Budi Utomo sebagai pemeran utama hingga Peristiwa Reformasi 1998, sebagai gerakan mahasiswa terbesar terkahir yang mampu merubah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa Mahasiswa ber"gerak"?
Gerakan Mahasiswa sebagai bagian dari gerakan sosial jelas memiliki latar belakang dan medan yang berbeda dalam mengaktualisasikan ide, gagasan, akan perubahan gerakannya. Bila gerakan sosial biasanya didefinisikan sebagai gerakan bersama sekelompok orang atau masyarakat yang terorganisir tetapi informal bersifat lintas kelompok untuk menentang atau mendesakkan perubahan (2008). Gerakan mahasiswa masih membawa ruh perubahan yang sama namun -lagi- dalam medan yang berbeda.
Gerakan mahasiswa lahir tidak lepas dari kondisi soiala yang melatar belakangi. Bahwa Mahasiswa ( manusia yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi) berada pada puncak strata pendidikan akademis dinegri ini tentunya dianggap memiliki basis keilmuaan tertinggi daripada lulusan dalam jenjang pendidikan lainnya. Dari segi kuantitas, jumlah orang yang mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di dalam masyarakat jumlahnya masih sangat sedikit. Kondisi seperti inilah yang kemudian melahirkan tanggungjawab sosial bagi mahasiswa. Bahwa bagi setiap orang yang mengemban status sebagai mahasiswa tidak hanya dituntut tanggungjawab pribadi untuk mendapatkan IP tinggi kemudian segera lulus dan memperoleh pekerjaan mapan, namun juga mengemban tugas sosial untuk memperjuangkan rakyat miskin, melakukan kontrol atas penguasa yang represif. Dengan berbagai baju organisasi gerakan mahasiswa seperti HMI, GMKI, PMKRI, GMNI, CGMI, PMII, FMN, KAMMI, LMND dll peran sosial mahasiswa ini mereka perankan demi memenuhi tanggungjawab sosial. Hingga dalam berbagai catatan sejarah dituliskan mampu merubah tatanan sosial maupun menjatuhkan kekuasaan seperti Peristiwa Kemerdekaan, Tritura, Malari, dan reformasi kemudian kembali menempatkan mahasiswa dalm status sebagai Agent Of Change.

Tindakan Represif Penguasa
Respon penguasa dalam menyikapi gerakan mahasiswa pun beragam. Dimulai pada masa pendudukan Jepang dimana saat ini seluruh kegiatan kemahasiswaan diwajibkan untuk terlibat aktif dalam wadah-wadah kemiliteran seperti PETA, HEIHO dll. Yang pada saat itu sebenarnya gerakan mahasiwa dalam keadaan bak cendawan di musim hujan karena pasca sumpah pemuda. Pasca Kemerdekaan dimana gerakan mahasiwa seiring semangat idiologisasi dalam organ masing-masing menjadikannya sebagai underbow partai politik. Pasca dekrit 5 Juli 1959 hubungan antar partai politik sudah tidak sehat lagi, dimana saling menjegal dan menjatuhkan ang tentunya berimbas pada organ-organ kemahasiwaan yang menjadi underbow nya – menurut beberapa sumber- militerlah yang tentunya dibawah kendali Soekarno sebagai dalang dari segala prahara tersebut ( Wahyudi Ja'far. 2007). Hingga meletusnya tragedi berdarah 1965 yang menyebakan Soekarno mundur tidak dapat dilepaskan dari peran gerakan mahasiswa yang dimotori Soe Hok Gie dan kawan-kawan dalam Trituranya – meski entah siap dalang dibaliknya- yang kemudian melahirkan rezim Soeharto dengan Orde Barunya. Awal Orde Baru gerakan mahasiwa masih mampu berbicara hingga pada peristiwa Malari 1974. Tragedi kerusuhan yang merupakan respon atas investasi Jepang ke Indonesia harus dibayar mahal oleh gerakan mahasiswa dengan dikeluarkannya kebijakan NKK/BKK oleh pemerintah. Keluarnya kebijakan NKK/BKK menjadi pukulan telak dari rezim Soeharto. Mahasiswa dikandangkan hingga tak bisa lagi beraktifitas politik lebih jauh lagi, siapa yang berani berbicara vokal bakal terkena represi aparat. Hingga kemudian berpuncak pada peristiwa Reformasi 1998 yang mampu menumbangkan rezim Soeharto.

Organisasi Intra Kampus dan Ekstra Kampus
Istilah organisasi intra kampus dan Ekstra Kampus lahir pasca NKK/BKK di gelontorkan. Oragnisasi Intra Kampus adalah organisasi kemahasiswaan yang secara struktur berada di bawah struktur organisasi universitas maupun Fakultas. Organisasi Intra Kampus dan pihak kampus hanya dihalalkan untuk memberikan ruang bagi mahasiswa belajar dan menyalurkan hobinya. Kampus tidak boleh digunakan untuk gerakan-gerakan politik. Gerakan kritik dan diskusi-diskusi dilempar jauh dari kampus bila sampai terendus pemerintah, militer tidak segan-segan melakukan tidakan represif kepada mahasiswa dan organisasnya. Inilah yang dialami organisasi ekstra kampus. Organisasi Kemahasiswaan yang secara struktur tidak berada dibawah struktur organiasasi kampus yang berdiri didasarkan atas kesamaan latar belakang atau tujuan berorganiasasi yang padad umumnya berada dalam struktur organisasi nasional ( Gerakan Mahasiswa) . Kebijakan NKK/BKK menjadi momentum dimana gerakan mahasiswa bermetamorfosis untuk masuk dan menguasai struktur intra kampus.
Saat ini pasca tumbangnya rezim represif Soeharto semestinya penggunaaan label Intra dan ekstra kampus sudah tidak relevan lagi. Dimana kebijakan represif sudah tidak ada lagi diganti dengan sistem yang lebih demokratis dan liberal, namun kondisi di lapangan masih menunjukkan hal tersebut. Meski dalam kadar yang lebih rendah perlakuan pihak universitas masih seringkali menunjukkan diskriminasi pada organisasi ekstra kampus. Hal inilah yang mendasari beberapa gerakan mahasiswa untuk melakukan infiltrasi kedalam organisasi-organisasi intra kampus seperti BEM, Persma, LDK, HMJ, dan UKM-UKM.
Ada berbagai macam motivasi Gerakan Mahasiswa melakukan infiltrasi para kadernya ke dalam organisasi intra Kampus. Pertama faktor Ekonomi, Organisasi intra kampus memiliki anggaran pemasukan rutin dari universitas. Lahan dana inilah yang coba di manfaatkan bila bila dapat menguasai posisi strategis di organ intra oleh organ ekstra. Kedua, Faktor masa. Kedekatan akses atas masa (mahasiswa) yang dimiliki oleh organ intra dapat dijadikan jalan perekrutan kader oleh organ ekstra. Ketiga akses informasi. Organ intra memiliki akses informasi langsung dari Universitas serta kemudahan akses informasi di luar kampus karena masih dianggap netral, menjadi faktor penting penguasaan organ intra oleh organ ekstra. Keempat media penyampaian faham (pemikiran) dengan kapasitas organ intra atas anggota maupun forum-forum didalamnya, dapat dimanfaatkan oleh organ ekstra dalam penyampaian faham atau gagasan yang diyakininya. Kelima dan yang paling utama adalah Latar belakang politik, tidak bisa dipungkiri bahwa politik kampus menjadi tujuan utama gerakan mahasiswa masuk dan menguasai dalam struktur BEM baik di fakultas maupun universitas. Dengan dikuasainya struktur BEM ke empat faktor diatas dapat dijalankan dalam satu ruang serta dapat meningkatkan posisi tawar bagi figur maupun organisasi ekstra yang menyokong penguasaan, itu di taraf lokal maupun nasional.

Pemetaan di Kampus UGM
Dalam pengamatan penulis dari sekian banyak Gerakan Mahasiswa di lingkungan UGM pasca reformasi seperti : LMND-PRM, KAMMI, HMI, GMKI, FMN, PMKRI, PMII, IMM, GMNI. Hanya beberapa yang mampu bermetamorfosa dan melakukan infiltrasi ke dalam Organisasi Intra Kampus. Seperti:
1. KAMMI
Sebagai gerakan mahasiswa Islam yang lahir pasca reformasi. KAMMI sukses menguasai BEM dan LDK di kampus umum. Seperti di UGM yang menguasai BEM KM lebih dari 10 tahun. Hal ini di latar belakangi faktor sosiologis perkotaan yang kebanyakan haus akan religiusitas yang oleh LDK – LDK kemudian di lakukan transfer gagasan keislamannya dan kemudian diarahkan pada penyokong kekuatan BEM di dalam PEMIRA. Selain di BEM KM KAMMI juga menguasai beberapa BEM fakultas Seperti: Kedokteran, Farmasi, MIPA, Biologi, Peternakan, Hukum, Ekonomi, Geografi dll.
2. HMI
Sejarah panjang lahirnya HMI tidak mampu diejawantahkan oleh para kadernya yaitu pasca Reformasi untuk menguasai BEM KM di UGM. Padahal sebelum reformasi HMI (DPO) rajin mengisi kursi mahasiswa no 1 di UGM. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya perpecahan dalam internal HMI ( DPO ). Perpecahan ini sangat nampak kala PEMIRA 2010 dimana kader HMI sendiri terdapat dalam 4 partai kampus. Faksi yang terbangun yaitu ada 3 yaitu blok sospol-hukum, Ekonomi-D3, dan tekhnik. Fakta diatas membuat HMI (DPO) hanya mampu menguasai DPM yang tentunya bersama koalisi.
3. PMII
Sebagai Organisasi islam kultural PMII tidak cukup bekekuatan dalam peta perpolitikan kampus umum ( UGM) tidak seperti di kampus-kampus keagamaan ( UIN, IAIN) yang mampu menguasai struktur tertinggi kampus. Di UGM persebaran kader PMII berada dan menempati posisi-posisi sentral di dalam persma persma baik di universitas maupun fakultas . Hal ini tidak terlepas dari latar belakang kadernya yang kebanyakan merupakan intelektual organik dari pedesaan yang mampu lolos saat UM maupun SPMB.
4. GMNI
GMNI memiliki sejarah politik kampus yang cukup panjang di masa lalu kektika menguasai BEM fakultas-fakultas di Fisipol, Kedokteran, kehutanan. Namun minimnya kaderisasi membuat sejarah itu tidak terulang. GMNI hari ini cenderung hanya bergerak dalam tataran komunitas epistemik yang kadang rutin diselenggarakan di selasar-selasar kampus.
5. GMKI.
Peran GMKI dalam organ intra sejauh ini belum menjadi pemain utama dalam politik kampus di UGM. Peran dan persebarannya gagasannya dijalankan di organisasi PMK-PMK fakultas-fakultas di UGM.
6. PMKRI
Hampir mirip dengan GMKI, PMKRI sejauh ini hanya mampu memainkan peran nya di Organisasi intra KMK-KMK di fakultas-fakultas UGM.
Gerakan mahasiswa yang lain secara kuantitas dan eksistensinya di kampus UGM memang diakui keberadaanya. Namun pergerakan masa maupun kesertaan dalam politik kampus atau berperan sentral dalam organ intra kampus belum dapat dilakukan mereka. Bentuk gerakan mereka biasanya dilakukan berupa komunitas epistemik dalam wujud diskusi diskusi atau penyikapan atas sebuah peristiwa yang dilakukan dalam wujud aliansi aksi gerakan mahasiswa.
Sebagai penutup, bahwa segala dinamika yang terjadi di kampus tidaklah bebas nilai. Selalu ada nilai atau kepentingan dibalik setiap peristiwa itu. Dan sebagai awak pers mahasiswa sepatutnya paham akan hal hal diatas dan mampu menganalisis atas sebuah peristiwa yang terjadi.