Sabtu, 27 November 2010

Menyoal Student Visit BEM KM UGM

“Kalau hari ini BEM KM UGM tidak berani melangkah keluar atau melangkah lebih jauh ya, kita hanya kan jadi jago kandang saja....”
Ungkapan di atas dikutip dari wawancara Mahkamah dengan Kabiro Humas BEM KM UGM yang menjadi salah satu alasan BEM KM UGM melakukan student visit ke Malaysia. Sebuah program kerja nyentrik BEM KM yang baru terdengar seminggu sebelum keberangkatan mereka. Sebuah program kerja yang terasa mengejar prestise dan janggal karena tidak secara gamblang disosialisasikan jauh-jauh hari. Menjadi tidak aneh kalau kemudian banyak pihak langsung menyamakan program BEM KM ini dengan studi banding DPR RI ke luar negeri.

Jago Kandang

Melalui Kabiro Humasnya, BEM KM UGM merasa sudah menjadi jago kandang sehingga perlu melakukan student visit ke luar negeri untuk menghilangkan pelabelan tersebut. Beliau juga mengungkapkan bahwa BEM di seluruh Indonesia itu yang mengatur (menjadi komando) adalah BEM KM UGM. Oleh karena itu untuk mencoba melebarkan sayap gerakan dan mencoba menyentuh kebijakan-kebijkan internasional yang berpengaruh pada kebijakan domestik, program kerja ini dilaksanakan.
Jago kandang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang hanya berani dan unggul (berbicara, melawan dsb) dilingkungannya sendiri. Tentunya kita masih ingat kisruh pasca PEMIRA tahun lalu, dimana figur sang Presiden Mahasiswa (secara penilaian akademis) dipertanyakan kelayakannya oleh pihak Rektorat. Kisruh dalam Sidang Umum. Legitimasi yang tak serta-merta diberikan oleh DPM pasca PEMIRA, hingga media nasional dalam lembar daerahnya pun menyorot hal tersebut. Inikah yang disebut jago di kandang-nya sendiri? Kalau hanya berani dilingkungannya sendiri mungkin benar, tapi apakah ini sebuah keunggulan juga?
Kalau yang dimaksud jago kandang itu dalam skala nasional. Maksudnya, BEM KM UGM sudah menjadi komando BEM se-Indonesia. Apakah seremeh itu klaim sebagai subyek yang memiliki keberanian dan keunggulan di wilayah Indonesia? Yang seperti kita ketahui bersama memiliki segudang permasalahan untuk dipecahkan. Tentuya penyelesaian permasalahan disini memang yang menjadi ranahnya gerakan mahasiswa. Bukan penyelesaian masalah dalam arti sebenarnya, karena kalau itu tetap menjadi tugas pemerintah.
Gerakan mahasiswa dapat dikatakan sukses apabila telah mampu mempengaruhi kebijakan publik. Pengaruh yang diberikan itu dipengaruhi idealisme mahasiswa sebagai agent of change yang didasarkan fakta dalam masyarakat. Apakah program-program serta kegiatan-kegiatan BEM KM UGM tahun ini sudah mampu mempengaruhi kebijakan publik? Apakah aksi demo turun ke jalan yang dilakukan BEM KM UGM setahun ini–-baik langsung maupun tidak langsung—mampu mengubah atau sekedar mempengaruhi kebijakan publik? Apakah sebagian besar mahasiswa UGM telah merasa terwakili atau telah merasa kepentingannya diperjuangkan oleh BEM KM UGM? Setidaknya fakta tidak bergemingnya kebijakan nasional pasca aksi-aksi demonstrasi BEM SI (seluruh indonesia) dan berlakunya tarif berbayar bagi mahasiswa baru dus minimnya partisipasi mahasiswa dalam setiap kali PEMIRA menjadi cerminan kesuksesan gerakan mahasiswa yang dimotori BEM KM UGM yang sudah jadi sang jago kandang.

Penting Tak Penting

Seberapa pentingkah hingga student visit dirasa perlu untuk dilaksanakan sebagai sebuah program kerja BEM KM UGM? Pertanyaan kritik di atas menjadi relevan karena ini berkaitan dengan sejumlah dana yang tidak sedikit dalam menjalankan program ini dan manfaat apa yang bisa diambil dari student visit BEM KM UGM ke Malaysia tersebut.
Dari beberapa alasan yang mendasari program kerja ini diantaranya adalah kunjungan balasan atas kunjungan yang dua tahun lalu pernah dilakukan oleh organisasi mahasiswa Malaysia ke UGM. Alasan pendukung berikutnya adalah membangun jaringan organisasi gerakan mahasiswa di regional ASEAN, dan mencoba menyentuh kebijakan-kebijakan yang berskala internasional. Dengan alasan kekuatan jaringan dan keterbatasan dana. Malaysia dipilih sebagai negara tujuan student visit ini.
Hanya merupakan kunjungan balasan menunjukkan bahwa program ini merupakan program reaktif. Jika mereka (organisasi mahasiswa Malaysia) tidak ke Indonesia dua tahun lalu, berarti program student visit BEM KM tahun ini tidak ada. Namun alasan di atas dikuatkan dengan alasan berikutnya untuk membangun jaringan gerakan mahasiswa regional ASEAN.
Tidak semua negara memiliki kehidupan pergerakan mahasiswa se-dinamis di Indonesia. Negeri seperti Filiphina dan Thailand lebih identik dengan people power-nya dari pada gerakan mahasiswanya. Apalagi negeri seperti Kamboja dan Brunei. Di Malaysia pun gerakan mahasiswanya tidak cukup berpengaruh meski keberadaannya diakui. Sebagai sebuah negara kerajaan dan kuatnya partai penguasa disana membuat situasi gerakan mahasiswa tidak bias mengambil peran strategis.
Tanpa memandang sinis upaya BEM KM UGM dalam mencoba menyentuh dan memperjuangkan kebijakan internasional Indonesia dengan Malaysia. Hendaknya BEM KM UGM perlu membaca kekuatan diri terlebih dahulu. Memang Individu-individu dalam BEM KM UGM merupakan subyek hukum internasional, namun untuk "berbicara" dalam hubungan internasional tersebut, kita perlu telaah lebih, dalam konteks yang lebih sempit. Seperti niat BEM KM UGM mendatangi kamp korban penganiayaan TKI di Malaysia. Seharusnya sudah menjadi pemahaman di internal bahwa dalam konteks perjanjian internasional mengenai TKI, yang menjadi subyek hukum adalah negara. Jadi, Individu maupun BEM KM tidak dapat mempengaruhi perjanjian tersebut. Yang bisa dilakukan hanya menekan dan mempengaruhi Pemerintah Indonesia untuk melaukan moratorium perjanjian tersebut dan memberikan jaminan keselamatan. Yang sebenarnya upaya itu bisa dilakukan di dalam negeri (Indonesia), tidak perlu student visit ke ke luar negeri, kecuali kalau niatnya memang ingin piknik ke Malaysia.
Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dilakukan BEM KM UGM di dalam negeri. Seperti melakukan konsolidasi gerakan mahasiswa intra maupun ekstra kampus di seluruh Indonesia untuk kemudian merumuskan strategi dan tujuan perubahan bersama secara nasional. Dengan modal besar dalam BEM SI tentunya bukan hal sulit bagi BEM KM UGM untuk menjadi pionir gerakan mahasiswa nasional secara menyeluruh.
Dengan solidnya gerakan mahasiswa nasional secara menyeluruh fungsi dan peran ekstraparlementer akan lebih mudah terselenggara dan tidak akan mudah terjebak dalam isu-isu negatif dan malah kontra revolusioner seperti student visit ke luar negeri. Semoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar