Jumat, 21 Januari 2011

Sekelumit Tentang Jurnalisme Lingkungan Dalam Kacamata Pers Mahasiswa


Ungkapan lain dari Gadis Jepara : "menulis adalah bekerja menuju keabadian" (Rumah Kaca ; Pramoedya Ananta Toer)

Menulis adalah jalan menuju keabadian. Menuju keabadian gagasan (bukan fisik). Setidaknya untuk ukuran seseorang mahasiswa dari bidang sosial, tentu saja "menulis" merupakan modal awal untuk mengekspresikan segenap kemampuan berpikir. Mengapa harus menulis? Jawabannya adalah sederhana: karena kata adalah senjata. Dengan menulis berarti kita sedang bermain dengan kata-kata. Rangkaian kata-kata yang tersusun utuh sebagai gagasan brilian merupakan cara paling efektif untuk dapat dipahami tak hanya oleh satu orang, tetapi sampai ribuan khalayak pembaca. Itulah mengapa media massa, wadah dimana kata dituangkan dalam bentuk berita, dimengerti sebagai pilar keempat demokrasi. Tentu saja, tak lain karena posisi media massa begitu strategis yang sanggup menyedot perhatian ribuan pasang mata.

Sekilas tentang Jurnalisme dan Jurnalisme Lingkungan
Jurnalisme adalah bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan dan menganalisis informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang, termasuk trend, masalah dan tokoh. Orang yang memprakatekkan kegiatan jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan. Aktivitas utama dari jurnalisme adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana. (dalam bahasa Inggris dikenal dengan 5W+1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend. Jurnalisme meliputi beberapa media: koran, televisi, radio, majalah dan internet sebagai pendatang baru.
Sedangkan jurnalisme lingkungan dapat didefinisikan sebagai proses kerja jurnalisme melalui pengumpulan, verifikasi, distribusi dan penyampaian informasi terbaru berkaitan dengan berbagai peristiwa, kecenderungan, dan permasalahan masyarakat, yang berhubungan dengan dunia non-manusia di mana manusia berinteraksi didalamnya.
Dalam interaksi antar komponen lingkungan, wartawan diharapkan harus “memihak” kepada proses-proses yang meminimalkan dampak negatif kerusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, wartawan lingkungan perlu menumbuhkan sikap:
• Pro Keberlanjutan: Lingkungan Hidup yang mampu mendukung kehidupan berkelanjutan, kondisi lingkungan hidup yang dapat dinikmati oleh generasi sekarang tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang
• Biosentris: Kesetaraan spesies, mengakui bahwa setiap spesies memiliki hak terhadap ruang hidup, sehingga perubahan lingkungan hidup (pembangunan) harus memperhatikan dan mempertimbangkan keunikan setiap spesies dan sistem-sistem di dalamnya.
• Pro Keadilan Lingkungan: Berpihak pada kaum yang lemah, agar mendapatkan akses setara terhadap lingkungan yang bersih, sehat dan dapat terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan.
• Profesional: Memahami materi dan isu-isu lingkungan hidup, menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik, menghormati etika profesi, dan menaati hukum.
• Topik-topik yang diangkat jurnalisme lingkungan, misalnya pencemaran udara atau pengaturan sampah, dengna pengkhususan masalah-masalah yang terjadi di ranah lokal. Selain itu, jurnalisme lingkungan juga mencakup topic-topik seperti: Isu lingkungan antarnegara, perubahan iklim dan pemanasan global, illegal logging, kualitas air, kebakaran hutan, pencemaran industri, nuklir, kekeringan, banjir, longsor, kabut asap, limbah rumahtangga, limbah rumahsakit, limbah industri, kepunahan fauna, modifikasi generika, dan sebagainya.

Jurnalisme Lingungan dan Pers Mahasiswa
Pers Mahasiswa sebagai salah satu pelaku Jurnalisme tentu dan seharusnya mengambil peran dalam perjuangan lingkungan, perjuangan memaparkan kondisi lingkungan dan perjuangan mencegah kerusakan lingkungan dalam bingkai jurnalisme lingkungan. Pers mahasiswa sebagai salah satu pelaku jurnalisme memiliki karekteristik akan sumber daya, capital, dan distribusi yang khas diantara pelaku jurnalisme (mainstrem) lainnya. Karakter yang khas inilah yang melahirkan keluaran yang khas pula dari produk pers mahasiswa dala mejalankan jurnalisme lingkungan.
Berangkat dari kesadaran akan karakter yang dimilki oleh pers mahasiswa inilah setidaknya (menurut saya) persma mahasiswa memiliki keunggulan diantara beberapa media mainstrem. Pertama, Secara modal pers mahasiswa tidak tergantung pada kepemilikan modal pribadi, jadi persma lebih leluasa dalam menentukan pilihan isu maupun kejadian kejadian lingkungan. Kedua, sumber daya di dalam persma merupakan mahasiswa aktif. Sehingga yang kesegaran basis keilmuan masih cukup terjaga untuk dijadikan pisau analisis dalam membaca fakta lingkungan. Ketiga, jika didalam harian media cetak, opini wartawan haram dimasukkan dalam sebuah tulisan berita. Sedangkan di produk persma (setidaknya di MAHKAMAH) pemikiran sang wartawan malah harus dimasukkan sebagai tanggapan, memberikan positioning atau sebagai propaganda kepada pembaca selain serta mungkin solusi mencgah kerusakan lingkungan itu terjadi. Keempat, distribusi yang terbatas membuat wacana yang diangkat bersifat lokal. Lokalitas isu dan wacana memberikan jarak yang sangat dekat dengan pembaca. Hal inilah yang tak jarang melahirkan respon langsung dari para pembaca.
Persma mencoba untuk tidak terjebak dalam mengejar aktualitas isu. Karena aktulitas isu memberikan konsekuensi bahwa tidak setiap periode terbitan terdapat isu atau fakta lingkungan baru. Toh isu lingkungan juga tidak bisa melulu dilihat dari kacamata dampak kejadian lingkunagn (baca: bencana) namun kondisi lingkungan harus dibaca sebagai sebuah bentuk dari konstruksi sosial, politik, dan ekonomi. Jadi menjalankan jurnalisme lingkungan jangan melulu diidentikkan dengan hal-hal yang sifatnya besar-besar atau membutuhkan investigasi mendalam. Memang investigasi yang mendalam sangat diperlukan namun lagi-lagi itu tergantung pada pilihan kawan-kawan semua. Apakah akan mengangkat isu lingkungan yang besar nan aktual dengan investigasi mendalam namun hanya sekali dipaparkan atau mengangkat isu-isu lokal atau bahkan sekedar gambar ilustrasi dan foto kampanye lingkungan namun rutin? kami dalam hal ini lebih memilih plihan kedua.
Akhirnya, jangan terlalu lama dan terlarut dalam belajar dan membaca teori-teori jurnalistik. Menulis itu tentang mencoba menuliskan gagasan dalam otak. Segera singkirkan tulisan ini. Ambillah kertas atau komputer dan mulailah menulis. Bukankah menulis itu sekedar merunut kalimat dalam paragraf demi paragraf? . RA Kartini pun berkata Menulis adalah bekerja menuju keabadian. Jika yang kita tulis adalah hal ihwal lingkungan pastinya selain keabadian, kelestarian dapat kita rengkuh dalam satu langkah. Semoga.

Sumber :
Wikipedia, Jurnalisme, diakses dari http://id.wikipedia.org.wiki/jurnalisme pada tanggal 20 Sepetmber 2010
http://ruangdosen.wordpress.com diakses pada tanggal 17 Januari 2010
http://jurnalismelingkungan\JurnalismeLingkungan « Greenpress(Environment Journalist Association).htm diakses pada tanggal 17 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar