![]() |
| Foto by: vivanews.com |
Bangun agak kesiangan hari ini (10/09/2011), seperti biasa saya langsung menyeduh minuman hangat sambil baca koran dan mendengarkan berita di tv. Kebiasaan yang nampak seperti kebiasaan orang-orang sukses, padahal hanya merupakan pengisi waktu kosong dalam kekosongan kegiatan bagi mahasiswa semester akhir seperti saya ini.
Dalam koran yang saya baca ternyata kemarin ada 3 perayaan ulang tahun bersamaan yang dimuat di dalamnya. Pertama (dan pastinya) perayaan Ulang tahun Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono ke 62, kedua perayaan ulang tahun Partai Demokrat ke 10 dan terakhir Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Komunis Korea Utara ke 63. Memang tidak ada hubungan dari ketiga perustiwa ulang tahun tersebut apalagi kalau dikaitkan dengan hari kemerdekaan Korea Utara, namun entah kenapa saya begitu tertarik dengan ketiganya apalagi bila melihat foto-foto yang pasang didalamnya.
Mengamati berita dan foto
Namanya saja ulang tahun, peristiwa ini akan terus berulang setiap tahun disetiap tanggal tersebut. Bagi saya ada dua hal yang penting dari sebuah ulang tahun yaitu sikap reflektif dari segala hal yang telah terjadi dalam usia yang telah berlalu dan aksi dalam memperbaiki kehidupan dimasa depan. Jadi, bukanlah perayaannya semata.
Tapi agar lebih bijak tentunya saya perlu membedakan antara perayaan sebuah institusi dengan ulang tahun umur seseorang. Karena institusi merupakan kumpulan orang atau badan dan tentunya sistem, dimana aktivitas didalamnya merupakan buah kolektifitas kerja bersama. Yang dalam hal ini Partai Demokrat dan Korea Utara merayakan ulang tahun dalam suasanan yang berbahagia dan bahkan pamer unjuk kekuatan militer oleh Pemerintahan Korea Utara.
Bila kita melihat dalam kacamata yang berbeda, unjuk kekuatan militer dari perayan Kemerdekaan Korea Utara tidak lain bermaksud unutk menunjukkan pada masyarakat dunia bahwa negara ini masih berdaulat. Masih berkuasa penuh atas tanah air-nya. Meminjam klausul dalam bahasa hukum internasional berarti tidak boleh ada negara lain yang mencampuri urusan dalam negeri Korea Utara. Walaupun dibalik citra tersebut kelaparan terjadi di dalam negerio dan bahkan kondisi pemimpin tertinggi Kore Utara pun dirahasiakan.
Sama hal-nya dengan perayaan ulang tahun Partai Demokrat. Dalam perayaannya, Partai ini hanya melakukan syukuran kecil-kecilan di dalam Kantor DPP Partai Demokrat. Dimana nampak Ketua Umum Anas Urbaningrum dan Sekjen Edi Bhaskoro tertawa bahagia di depan tumpeng. Nampak semua wajah berbahagia meski kanker ganas korupsi di internal Partai Demokrat tengah diusut KPK yang bahkan telah menahan mantan Bendahara dan diduga kuat mengait juga pada sosok ketua umum.
Namun sebagai sebuah organisasi meski satu, dua orang didalamnya terjerat kasus tentu citra dimata publik harus terus dijaga. Publik digiring lupa akan kasus yang menjerat internal partai apalagi ditambah proses hukum yang lama dan berbelit-belit tentunya semakin menguntungkan partai tersebut. Dengan terus menujukkan citra sebagai partai politik yang solid dan mapan dalam menghadapi segala permasalahan.
Dari kedua hal diatas tentu kita melakukan 'pembacaan' yang berbeda pada peristiwa yang ketiga ini. Perayaan Ulang Tahun ke 62 Susilo Bambang Yudhoyono. Betul bahwa sosok terakhir ini merupakan Presiden sah Republik Indonesia saat ini dan benar pula bahwa kemarin diselenggarakan perayaan potong tumpeng di Istana Negara. Wajah berbahagia jelas terpancar pada Presiden kita ini. Apalagi dengan kiriman-kiriman hadiah yang salah satunya berupa lukisan berjudul "The Wise Man"yang bergambar sosok beliau yang sedang berpikir keras. Dan dituliskan sosok beliau yang sangat ramah dimata wartawan saat itu dengan menyapa dan menerima beberapa ucapan selamat dari mereka.
Saat itu mungkin Presiden sedang sedikit rileks, melupakan sedikit beban berat tugasnya sebagai presiden di tengah kondisi bangsa yang belum pesat beranjak. Sangat manusiawi beliau sedikit bersenang-senang karena hari itu merupakan hari spesial untuk beliau. Tapi jangan lupa bahwa hari kemarin bukan kali pertama beliau merayakan ulang tahun tatkala menjabat sebagai Presiden. Sudah 6 ulang tahun beliau rasakan sebagai presiden. Jadi, sangat manusiawi pula jika kemudian banyak masyarakat mencibir, mengkritik tentang perayaan tersebut karena bukankah harusnya Presiden sudah terbiasa dengan perayaan seperti itu. Apalagi ini suidah dalam masa jabatan kedua Presiden?
Dari pada menghabiskan waktu dalam acara seremonial belaka, bukankah Presiden lebih baik bekerja nyata untuk rakyat, sepeti mengeluarkan kebijakan strategis dalam bidang hukum dan kesejahteraan bagi rakyat. Rakyat sudah hafal dan bosen dengan segala kerja yang berwujud citra yang terus dilakukan Presiden kita ini. Dalam masa jabatan kedua ini rakyat masih menunggu, kerendahan hati sosok asli pesisir Pacitan, kebijaksanaan figur bapak rumah tangga, ketegasan seorang jenderal TNI dan keberpihakan kepada rakyat sang Presiden tercinta ini. Semoga dalam usia ke 62 ini akan muncul sosok Pak Beye yang baru, yang benar-benar bekerja sepenuh hati dan tenaga kepada rakyat. Dan akhirnya saya ucapkan Selamat Ulang Tahun Pak Presiden!
