Awalnya saya sangat apresiatif merasakan atmosfir dan dialektika yang terjadi di dalam forum Sarasehan Cita Negara Hukum (18/02/11) di ruang 3.1.1 Fakultas Hukum UGM. Forum ilmiah yang dihadiri pembicara tokoh-tokoh tingkat nasional seperti Romo Franz Magnis Suseno, Mahfud MD, Saldi Isra, Refly Harun, Deny Indrayana, Anggito Abimanyu, Ganjar Pranowo dan masih banyak yang lain. Diskusi yang dimoderatori Bapak Fajrul Falaakh berlangsung sangat menarik dan sarat pengetahuan multidisiplin. Animo tamu undangan dan masyarakat pun cukup luar biasa, bahkan hingga ruangan tidak muat dan harus ditahan di luar ruangan dengan hanya mendengarkan suara pembicara via wireles. Meski akhirnya dengan modal nekat dan kamera pinjaman akhirnya saya bisa masuk walupun sudah melewatkan 4 tokoh yang telah menyampaikan gagasanya diawal. Kondisi itu terasa begitu menyenangkan bagi saya. Hingga saat itu kemudian saya beranggapan bahwa Cita Negara Hukum bukanlah sekedar Utopia. Dan Momentum Dies Natalis FH UGM menjadi momentum membangun negara hukum yang sebenarya.
Tapi harapan tiggal harapan. Terjadi kondisi yang berbeda 180 ketika sarahsehan itu harus di skor karena Sholat Jumat dan dimulai kembali pasca Sholat Jumat setelah santap siang.
Siang itu sudah tidak tampak lagi tokoh tokoh yang secara intelektual sangat saya hormati. Mahfud MD nampak meninggalkan tempat pertama, kemudian Saldi Isra dan rombongan pemikir ekonomi UGM mulai meninggalkan lokasi. Romo Magnis tampak gusar karena masih ada janji dan harus segera meninggalkan lokasi juga. Deny Indrayana dan Ganjar Pranowo hilang jejak walau saat selesai acara beliau masih nampak dan berada diluar ruangan Serta beberapa tokoh dari Fisipol dan Filsafat UGM yang hilang tak nampak batang hidungnya.
Waktu mulai pun molor setengah jam karena minimnya peserta. Pak Fajrul pun memulai dan memimpin diskusi dengan canda dan tawa untuk menyiasasti agar forum dapat langsung tune in. Kursi di dalam forum nampak lowong,sangat berbeda bila di bandingkan kondisi pada sesi pertama. Saat itu saya mulai gusar. Tinggal beberapa tokoh yang tetap antusisas dan duduk didalamnya. Sebut saja Refly Harun, Albertina Ho, dan Wicipto Setiaji. Saya menaruh hormat dan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen beliau-beliau tersebut.
Surutnya animo masa diskusi semakin nyata ketika siang itu Iwan Fals nampak telah tiba di Fakultas. Segala riuh rendah langsung berpindah ke sosok Iwan Fals. Jajaran dosen yang sebelumnya nampak antusias dalam sarahsehan duduk diantara para tokoh pun seolah ada yang memberi komando untuk tidak menampakkan diri. Setali tiga uang dengan kondisi dosen dan panitia Dies, dari sekitar seribu mahasiswa Fakultas Hukum UGM, tak nampak antusiasme mahasiswa dalam mengikuti rangakaian forum forum ilmiah. Para mahasiwa hanya sibuk menjadi panitia, mencari tiket konser dan mengambil gambar sambil berfoto bersama tokoh-tokoh nasional yang hadir. Padahal kalu bisa berdialog atau saling bertukar pikiran dan pendapat serta masukan pasti akan jauh lebih bernilai ketimbang hanya berfoto bersama.
Mungkin para sivitas akademika Fakultas Hukum UGM tanpa sadar telah terjebak dalam mindset budaya masa. Budaya masa sebagai bagian tafsir dari Budaya Populer telah menyandera para sivitas akademika untuk memberikan perhatian lebih pada aspek seremonial simbolik dari pada hal-hal yang lebih substansial. Kondisi ini dapat terlihat dari besarnya antusiasme para pihak atas kehadiran serta malam konser Iwan Fals dari pada menyemarakkan diskusi diskusi intelektual semacam orasi ilmiah dan sarahsehan.
Menurut Antonio Gramsci budaya pop dibangun oleh kelas penguasa untuk memenangkan hegemoni, sembari membentuk oposisi. Mungkin pernyataan Antonio Gramsci cukup relevan bila melihat kondisi rangkaian acara Dies Natalis yang salah satu sponsor utamanya adalah anak perusahaan Bakrie. Terlalu serampangan memang, bila langsung mengaitkannya dengan gerakan politik keluarga Bakrie yang dekat dengan penguasa. Namun kenyataanya memang demikian. Jangan-jangan memang terdapat agenda tersembunyi di balik itu semua atau semoga ini hanya perasaan saya saja.
Dan akhirnya pesimisme saya kembali menang. Tema tema yang begitu besar dalam rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Hukum UGM terasa bakal menguap begitu saja seiring berakhirnya seremoni Dies ini. Pak Fajrul pun menutup Forum Sarahsehan Cita Negara Hukum yang saya ikuti hingga akhir ini, dengan memaparkan daftar "belanja" gagasan. Daftar belanja gagasan yang diperoleh dari lebih 3 jam berbelanja yang belum jelas betul hendak dimasak menjadi apa belanjaan ini. Toh telah disepakati akan ada forum serupa di kemudian hari untuk menindaklanjuti hasil sarahsehan ini.
Bukankah diskusi (tanpa aksi) adalah selemah-lemahnya iman pergerakan. Negeri ini butuh lebih dari sekedar dialektika dalam diskusi namun tindakan nyata. Kondisi Ibu pertiwi sudah tidak bisa lagi menunggu hingga lustrum lima tahun yang akan datang. Tegaknya negara hukum bukan lagi sekedar cita namun harus dimulai dan diperjungkan sejak hari ini. Jangan sampai kita terus berada di bawah ketiak para mafia hukum gara-gara bius korupsinya atau jangan-jangan korupsi sudah menjadi budaya populer? Selamat ulang tahun Fakultas Hukum UGM ke 65.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar